Selasa, 16 September 2008

Membangun Pusat Kecantikan

Berawal dari keinginan mulianya beramal dengan ilmu, dr Yati Utoyo mengembangkan bisnis Pusat Kecantikan Leha-Leha. Kini bisnis tersebut telah dikembangkan dengan pola waralaba. Agus Wijaya dan Sukatna

Ilmu kedokteran telah digenggam oleh dr Yati Utoyo. Tetapi ia harus menghabiskan waktu di rumah, karena sang suami Ir Budi Utoyo telah mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Mula-mula Yati memang bisa menikmati hidup yang serba leha-leha (santai) ini.
Tetapi perjalanan hidup tidaklah selalu mulus. Apalagi, pada 1987 dan 1980 krisis moneter menghancurkan fundamental ekonomi beberapa negara Asia, termasuk Indonesia. Krisis ekonomi juga berimbas kepada kesejahteraan keluarga Budi Utoyo. “Karena kami sudah tidak memiliki harta untuk beramal, ya saya beramal dengan ilmu saja,” ungkap Yati ketika memulai merintis klinik kesehatan di rumahnya yang merupakan cikal bakal dari Leha-Leha Pusat Kecantikan.

Karena diniatkan sebagai ladang amal, banyak pasien Yati berasal dari golongan orang orang yang tidak mampu. “Kalau mereka memang tidak mampu maka kami memberikan pengobatan gratis,” ujar Yati.
Justru karena sering memberikan pengobatan dan perawatan gratis inilah, klinik kecantikan Yati berkembang pesat. Pasalnya, orang-orang yang telah ditolongnya secara sukarela bertindak sebagai ‘marketer’. Kebanyakan dari mereka membawa pasien-pasien yang kelas ekonominya cukup tinggi.
“Misalnya, seorang pembantu rumah tangga yang berhasil sembuh setelah saya obati akhirnya bercerita kepada majikannya sehingga mereka datang berobat ke tempat kami. Semakin banyak yang kami bantu semakin banyak pasien kaya yang datang ke klinik kami. Bahkan karena saking akrabnya tak segan-segan banyak pasien yang membangunkan saya di tengah malam,” tutur ibu tiga anak ini.

Yati bertutur, dirinya pernah berhasil menyembuhkan jerawat seorang staf di sebuah perusahaan, sementara bos di perusahaan tersebut juga menderita problem yang sama. Bahkan, setiap bulan sang bos ini pergi ke Singapura hanya untuk mengobati jerawatnya. Meski sudah tiga tahun bolak-balik Jakarta-Singapura, persoalan jerawat sang bos tak kunjung teratasi. Akhirnya, oleh stafnya disarankan untuk berobat ke Yati. “Maaf dengan cream Rp 45 ribu (harga pada waktu itu) apa mungkin jerawat saya bisa disembuhkan, sedangkan selama ini saya sudah berobat ke Singapura selama tiga tahun,” ucap Yati menirukan keraguan pasiennya. “Ibu dan saya berdoa saja. Kalau Tuhan menghendaki, Insya Allah cream ini bisa menjadi penyembuhnya,” jawab Yati pada waktu itu. “Ternyata problem tersebut bisa kami atasi, dan sampai sekarang pasien tersebut menjadi pasien setia saya. Bukan hanya dia sendiri, tetapi seluruh keluarganya,” cerita Yati.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini menuturkan, pasien selain bertindak sebagai ‘marketer’ juga sebagai ‘konsultan’ dalam perkembangan bisnis klinik kecantikannya. Perkembangan layanan yang ada di klinik kecantikannya, menurut Yati, justru berasal dari saran atau permintaan dari konsumen.
“Jadi mereka yang menyarankan untuk membuka suatu layanan tertentu. Kami tinggal merespon kebutuhan mereka saja. Setiap kami membuka jenis layanan tertentu segmennya sudah ada karena memang mereka yang menyarankan kepada kami untuk membuka layanan itu,” ungkap Yati. Lantaran perkembangannya sangat pesat, klinik yang berada di rumahnya di Harapan Jaya, kemudian berpindah ke Kompleks Perkantoran Bumi Satria Kencana Blok B No 4, Jalan Kali Malang Bekasi. “Ini juga atas saran customer. Mereka menghendaki agar keberadaan pusat kecantikan kami tidak terlalu jauh dari jalan tol, karena kebanyakan di antara mereka memang berasal dari luar Bekasi,” tutur Yati sambil menyebutkan pasiennya justru kebanyakan berasal dari luar Bekasi, misalnya dari Bintaro, Pondok Indah, Tangerang, Subang, Bandung, Pekalongan dan Semarang.

“Pasien yang datang dari Pekalongan dan Semarang kebanyakan memiliki problem sulit mendapatkan keturunan. Ini bermula dari seorang pasien yang sulit mendapat keturunan. Setelah berobat ke kami dengan metode akupuntur, ia berhasil memiliki keturunan. Keberhasilan ini disebarkan dari mulut ke mulut sehingga banyak pasien dari wilayah tersebut yang datang ke pusat kecantikan kami,” imbuh Yati.
Lantaran bisnis dan pasiennya berkembang pesat, Yati selalu membekali dirinya dengan ilmu-ilmu terbaru. Yati tercatat berguru dengan beberapa ahli pengobatan dari Australia. Bahkan ia dipercaya menjadi trainer kecantikan untuk Indonesia. Selain membekali kemampuannya, Yati juga selalu memperbarui peralatan dan teknologi di Leha-Leha. Sehingga Leha-Leha yang memiliki layanan kecantikan dari ujung rambut sampai ujung kaki ini memberikan jasa perawatan dan pengobatan dari metode paling tradisional sampai paling modern. “Kami mengobati masalah kecantikan yang disebabkan oleh penyakit maupun yang disebabkan kosmetik,” terang Yati.

Konsep yang ia usung, menurut Yati, mungkin berbeda dengan pusat kecantikan lainnya. Leha-Leha Pusat Kecantikan diposisikan sebagai one stop shopping di bidang kecantikan yang meliputi Spa, Klinik Kecantikan dan Salon.
Mengapa Leha-Leha diwaralabakan? “Kalau kita membuka kesempatan kepada pihak lain, berarti kita juga berbagi rejeki kepada orang lain juga. Kalau ada franchisee yang bergabung ia juga akan ikut merasakan rejeki dan dia bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Motif ini yang lebih utama. Meski memang ada motif bisnisnya tetapi itu berada di umur urut kedua,” ucap Yati.
Alasan lainnya, bisnis kecantikan di antaranya spa masih sangat prospektif. Pada akhir 2003, bisnis spa di Australia, Selandia Baru, Thailand, Malaysia dan Indonesia menghasilkan uang US$ 500 juta, sedang di Amerika Serikat spa berhasil membukukan uang US$ 16 miliar atau sekitar Rp 160 triliun per tahun. Pasar yang luar biasa besar.
Pertimbangan lain, bisnis waralaba merupakan cara yang tepat untuk mengurangi risiko bisnis. Data Departemen Perdagangan Amerika Serikat menyebutkan, 90% bisnis waralaba masih tetap beroperasi setelah 10 tahun, sedangkan bisnis mandiri 82% mengalami kegagalan.

Menurut Yati, sudah sekitar 20 orang tertarik untuk bergabung dengan Leha-Leha. Bahkan untuk Leha-Leha di Bandung dimiliki oleh salah satu petinggi Biofarma. “Justru kami yang berhati-hati memilih franchisee, karena ini tak ubahnya memilih pasangan hidup,” pungkasnya. Siapa tertarik meminang Leha-Leha?

Ilustrasi Investasi dan Rugi Laba Leha-Leha Pusat Kecantikan
Investasi


Untuk spa
Rp. 350 juta

Untuk klinik
Rp. 500 juta

Total investasi
Rp. 850 juta

Sewa ruko 1 tahun pertama
Rp. 60 juta

Total dana awal
Rp. 910 juta

Perkiraan pendapatan sebulan

Perawatan spa dan klinik
Rp. 90 juta

Penjualan obat-obatan
Rp. 12,5 juta

Total pendapatan per bulan
Rp. 102,5 juta

Perkiraan biaya per bulan

Sewa ruang
Rp 5 juta

Gaji karyawan


- 2 orang dokter @ Rp 3 juta
Rp 6 juta

- 2 orang perawat @ Rp1,25 juta
Rp 2,5 juta

- 1 supervisor
Rp 1,5 juta

- 5 terapis @ Rp 800 ribu
Rp 4 juta

- 1 keuangan
Rp 1 juta

- 2 administrasi dan kasir
Rp 1,6 juta

- 2 OB dan kasir
Rp 1,5 juta

Pembelian produk perawatan & obat
Rp 32,5 juta

Listrik air, telepon
Rp 3 juta

Fee manajemen & marketing
Rp 2,7 juta

Royalty fee (5% omset)
Rp 4,5 juta

Perawatan & kebersihan fasilitas
Rp 1 juta

Total biaya
Rp 66,8 juta

Keuntungan per bulan
Rp 35,7 juta

Perkiraan ROI Rp 850 juta: Rp 35,7 juta= 23,81 bulan= 2 tahun

Konro daeng basso
Batik serat alam digandrungi
Usaha rumah bambu

source : majalahpengusaha.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...