Selasa, 16 September 2008

Konro Daeng Basso

Siapa tak kenal kelezatan makanan khas Makassar, sop konro. Namun Sop Konro Daeng Basso membuat beberapa menu varian, sehingga lidah konsumen semakin dimanjakan. Wiyono

Bisnis boga jenis makanan tradisional sekalipun, senantiasa memiliki prospek bagus asal pandai-pandai mengemasnya. Tri Biantina dan suaminya bukanlah orang pertama yang memperkenalkan resto sop konro, menu masakan khas daerah Sulawesi Selatan. Akan tetapi Sop Konro Daeng Basso (SKDB), restoran konro (tulang iga sapi) miliknya boleh dibilang di antara yang sukses menarik pembeli yang terdiri dari berbagai kalangan usia dan latar belakang kultur, khususnya di Jakarta dan sekitarnya.

Dua tahun setelah buka, kini usaha restoran mereka sudah berkembang sebanyak empat cabang. Bahkan tahun ini direncanakan bakal menambah tiga buah gerai lagi. “Pertama kali buka bulan Desember 2005 di mall Cempaka Mas, empat bulan kemudian mulai buka di Hero Pondok Bambu. Pada awal 2007 kita buka di rest area tol Cikampek, dan 2008 buka di mall Kelapa Gading. Direncanakan Mei 2008 kita mulai buka cabang di Bintaro Plaza, lalu di mall Cikampek,” tutur Edy Suhelda selaku manajer operasional sekaligus sebagai marketing franchise sejak 2008 ini.

Menurut Edy investasi yang dikeluarkan untuk setiap gerai SKDB minimal Rp 300 juta. Biaya paling tinggi adalah pengadaan lokasi serta renovasi kurang lebih Rp 200 juta, selebihnya peralatan sekitar Rp 100 juta, dan biaya-biaya operasional Rp 15 juta-Rp 20 juta. Namun pengeluaran sebesar itu lekas tertutupi sebab tingginya animo pembeli. Setiap hari jumlah pelanggan rata-rata 150-200 orang atau mampu mencapai omset Rp 7 juta/hari.

Salah satu kunci sehingga digemari masyarakat terletak pada kreasi menu, dari bahan dasar konro dapat disajikan aneka variasi menu masakan. “Semula hanya ada satu jenis, sop konro, kemudian dimodifikasi sehingga terdapat sekitar 10 jenis menu lain. Misalnya konro buntut, konro baso, konro pecel, konro goreng, konro steak, dan seterusnya,” ungkap Edy

“Kita bikin bisnis restoran kalau tidak inovatif tidak punya kelebihan. SKDB bisa dinikmati semua kalangan, dalam arti, kalau pelanggan datang membawa keluarga, umpama bapak minta sop konro, anaknya bisa pilih baso konro, sedangkan buat si ibu tersedia pecel konro. Konro steak juga ada, jadi lengkap untuk semua anggota keluarga,” imbuhnya.

Karena kelebihan yang dimiliki itu, Edy optimistis terus melakukan penambahan jumlah gerai, terutama wilayah Jabodetabek. Bahkan pertengahan tahun 2008 mulai ditawarkan kerja sama waralaba. Sebab menurutnya, apabila kompetitor masih bermain pada menu sop konro yang tradisional, SKDB sudah melangkah lebih dulu dengan menu-menu modifikasi. Jika awalnya sop konro hanya dikenal etnis tertentu yang terbatas jumlahnya, dengan adanya kreasi sekarang sudah bisa dinikmati oleh semua lidah layaknya warung masakan Padang saja. Konon malah tidak sedikit di antara pelanggan adalah orang-orang bule.

Sejatinya, seperti dikatakan, terdapat dua opsi kerja sama, yakni kerja sama sistem bagi hasil dan sistem franchise. Bila pemilik modal menghendaki bagi hasil, maka cukup menyediakan tempat, meja kursi, renovasi dapur dan peralatan masak. Selebihnya, baik karyawan maupun operasionalnya menjadi tanggung jawab Edy. Pemilik tempat berikut peralatan akan mendapatkan pembagian 15% dari total pendapatan kotor. Untuk waralaba, karena masih taraf penjajagan maka untuk sementara waktu menerapkan sistem franchise tanpa royalty fee. Pembagian keuntungan tentu saja lebih besar, bahkan negotiable. “Kita akan lihat lokasinya juga. Ini terus terang baru kita persiapkan, tetapi pertengahan 2008 mudah-mudahan sudah kita kembangkan menjadi franchise,” tukas kelahiran Palembang 1969 itu.

“Dengan kita upayakan franchise maka sebetulnya kita ingin mengangkat makanan tradisional menjadi nasional, bahkan go international, dari tradisional ke moderen. Makanya dibuat variasi menu. Dengan kata lain, menu-menu yang kita kreasikan sendiri itu untuk menaikkan image menjadi makanan nasional yang bisa dinikmati semua orang,” ujar Edy yakin.

Selain itu, beberapa langkah pengembangan lain yang ditempuh di antaranya, disamping menu konro, juga disediakan bermacam-macam minuman dan makanan penunjang yang unik dan menarik, seperti es pisang ijo atau pun coto makasar yang sudah amat populer. Agar tampilan tampak menarik, setiap gerai dibuat display seragam berupa gambar-gambar menu berukuran besar di dinding yang didominasi warna merah, kuning dan biru. Sementara itu untuk memudahkan operasionalnya, sejak awal sudah dibuat dapur khusus pengolahan bahan-bahan baku menjadi bahan setengah jadi berlokasi di daerah Cibubur.

Dan untuk menjaring semua kalangan masyarakat, disebutkan Edy, harga masing-masing porsi cukup terjangkau, antara Rp 14 ribu-Rp 32 ribu. Malah disediakan menu paket hemat, khususnya bagi pembeli yang datang berombongan atau keluarga. Umpamanya, untuk satu keluarga dengan empat atau lima orang bisa memilih menu paket Rp 65 ribu, sedangkan untuk enam sampai tujuh orang disediakan paket hemat Rp 99 ribu, disebut Konro Fiesta. Jadi selain sop konro special, satu paket lengkap terdiri dari bakso konro, pecel konro, atau pun sop buntut konro.

Ilustrasi Usaha Franchise Sop Konro Daeng Basso :
Modal Awal Usaha:
- Sewa tempat dan renovasi Rp. 200.000.000,-
- Biaya operasional dan bahan Rp. 20.000.000,-
- Perlengkapan restoran dan masak Rp. 100.000.000,- +
Total Investasi awal Rp. 320.000.000,-


Penjualan Rata-Rata/Bulan: Rp 210.000.000,00
(Profit Margin 30%)
Pendapatan Kotor Bulanan: Rp 63.00.000,00

Kesimpulan:
BEP sudah tercapai dalam waktu 6 bulan pertama/ setengah tahun.

Konro daeng basso
Batik serat alam digandrungi
Usaha rumah bambu
Rejeki syuuur dari sayur mayur

Jika ingin mengutip/menyebarluaskan artikel ini harap mencantumkan sumbernya.
source : majalahpengusaha.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...