Tampilkan postingan dengan label Produksi Kue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Produksi Kue. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2009

Menguak Celah Pasar Bisnis Cemilan Sehat

KOMPAS.com- Kebanyakan cemilan mengandung pengawet dan penyedap rasa yang bisa membahayakan kesehatan. Bagi Andriani Kurnia, seorang ibu rumah tangga di Bandung, hal itu justru menjadi peluang bisnis. Dia pun membuat cemilan dengan mencampurkan sayuran tanpa pengawet.

Menguak Celah Pasar

Salah satu tabiat anak yang kerap membuat orang tua jengkel adalah keengganan anak mengonsumsi sayur. Padahal, sayur mayur mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan tubuh. Tak jarang, agar sang anak mau makan sayur, orang tua menakut-nakuti atau malah mengiming -imingi anak dengan sesuatu.

Kesulitan menyuruh anak mengonsumsi sayur juga pernah dialami Andriani Kurnia, ibu rumah tangga asal Sukamiskin, Bandung.

Tak mau mengancam atau mengiming-imingi anak terus menerus, Andriani pun putar otak. Dia pun memanfaatkan kemampuannya membikin kue kering untuk mendorong anaknya menikmati sayur mayur. "Saya coba-coba mencampurkan sayuran ke dalam adonan kue kering," katanya.

Merasa cara dan strateginya berguna, Andriani mencoba membuat kue campur sayuran untuk dijual ke pasar. Tak dinyana, pasar menyambut hangat. Maka sejak Oktober 20081alu, Andriani pun resmi masuk ke bisnis camilan sehat.

Modal awalnya Rp 500.000 yang dia pakai membeli tepung terigu, mentega, keju, telur, dan sayuran. "Saya masih pakai teknologi sederhana, kok," ucap perempuan 32 tahun ini.

Andriani membuat cheese stick. Cara membuatnya sama dengan cheese stick biasa. Hanya saja di tengah tengah proses pengolahan, dia mencampurkan sayuran yang sudah dihaluskan. "Kandungan sayur dalam adonan 40 persen," ungkapnya.

Sejauh ini, Andriani telah menghasilkan enam pilihan rasa sayur, yakni brokoli, seledri, bayam, bit, jagung, dan wortel. Plus satu rasa lagi yang tanpa sayuran, yalumi original cheese.

Andriani mengemas semua varian camilannya dalam plastik mika. Asal wadah itu tak terbuka lama, ia mengklaim kue tanpa pengawet buatannya tahan tiga bulan.

Andriani membuat dua kemasan, yakni kemasan 1 ons dengan harga Rp 3.000-Rp 3.500, dan kemasan 2,5 ons (seperempat kilogram) dengan harga Rp 10.000. la juga menjual camilan dalam bentuk curah. "Harga curahnya Rp 40.000 per kilo," kata isteri Dikdo Maruto ini.

Andriani memproduksi cheese stick sayurannya sekali dua minggu. Sekali produksi, ia membikin 3 kg - 4 kg untuk masing-masing rasa. "Saya hanya dibantu dua karyawan dengan peralatan yang masih sederhana," akunya.

Pasaran produk Andriani memang masih sedikit. Sejauh ini produknya baru dipasarkan di Bandung, Jakarta, dan Jepara. "Ada orang yang pesan produk saya lalu dijual lagi," ucap ibu dua anak ini.

Dari usaha yang dijalani hampir genap satu semester ini, Andriani mengaku baru mengantongi omzet Rp 3 juta per bulan. Setelah dipotong ongkos produksi dan upah karyawan, margin Andriani hanya 30 persen saja.

Marginnya yang kini direguk Andriani memang masih terbilang minim. Menurut Andriani itu karena dia masih menemui banyak kendala beberapa diantaranya seperti proses edukasi pasar yang masih minim.

Selain itu, Andriani belum punya tempat usaha alias outlet sendiri. "Makanya kedepan kalau modal sudah ada, saya ingin membuat outlet penjualan sendiri di tempat yang strategis," ujar Andriani.

Karena usahanya masih rumahan, Andriani mengakui penetrasi pasarnya masih lemah. Terlebih saat ini dia masih dalam tahap menyusun konsep yang tepat terhadap produknya.

Namun Andriani mencatat, prospek bisnis camilan sehat ini bagus. Dia yakin camilan ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang enggan makan sayur atau mereka yang menginginkan camilan sehat tanpa pengawet. Ya, Andriani menjamin camilan bikinannya tidak mengandung bahan pengawet maupun pewarna. (Anastasia Lilin Yuliantina/Kontan)

Source : Kompas.com

Kamis, 06 November 2008

Produksi Kue

Bandung - Lebaran? Ah, tak lengkap rasanya tanpa kue-kue kering. Industri rumah tangga pun tak melewatkan momen sekali dalam setahun ini untuk menggenjot produksi, sekaligus menangguk laba.

Misalnya Ina Cookies, Jalan Bojong Koneng 8, Cikutra. Jika pada hari biasa Inca Cookies hanya mempekerjakan 40 karyawan saja, maka menjelang hari raya jumlah karyawan menjadi berlipat-lipat hingga 335 karyawan. Dan mayoritas pekerja adalah perempuan dari masyarakat sekitar. Mereka umumnya bekerja paruh waktu saja,

Ina Rachmat (45) pemilik Ina Cookies mengatakan tambahan karyawan itu diperlukan mengingat lonjakan permintaan kue kering untuk hari raya terutama agen-agen dari Jakarta. Sekitar 90 persen produk Ina Cookies dikirimkan ke Jakarta. Sementara sisanya dikirim ke Sumatera dan Surabaya.

"Target tahun ini kami memproduksi 21 ribu lusin toples," tutur Ibu tiga anak ini. Jumlah tersebut meningkat dari target tahun sebelumnya yang hanya 13 ribu lusin.

Untuk memenuhi target tersebut operasional kerja pun tidak berhenti dari pagi sampai malam. Dengan sistem shift proses pembuatan kue bisa berlangsung dari pukul 07.00 WIB-01.00 WIB dini hari.

"Dalam satu hari memproduksi 4000 toples kue. Itupun kadang-kadang masih kurang. Bahkan sampai ada agen yang nangis minta dikirimkan kue lagi," ujar Ina yang saat ditemui tengah sibuk menerima permintaan para agen.

Saat ini Ina Cookies memiliki 50 agen besar yang mayoritasnya ada di Jakarta. 50 agen tersebut kemungkinan memiliki sub agen lagi di mana setiap sub agen bisa minta didistribusikan sebanyak 200 lusin. Sistem penjualan pada agen yaitu beli putus.

Biasanya permintaan dari para agen tersebut sudah ada sebelum ramadan tiba. Bahkan, ungkap Ina, untuk lebaran tahun depan saja para agen sudah memesan jumlah lusin yang diinginkan.

"Tapi ada juga yang memesannya dadakan. Padahal saya minta pesan sebelum bulan puasa. Tetap saja ada yang memesan saat bulan puasa," jelasnya. Terkadang permintaan dadakan ini yang membuat ibu tiga anak ini kelabakan.

Untuk target tahun ini sebesar 21 ribu diperkirakan seminggu sebelum hari raya hanya tinggal 300 lusin. Kemudian disisakan untuk hari raya 100 lusin karena permintaan biasanya masih ada sampai akhirnya tidak lagi tersisa.

Jika anda hanya mengenal kue kering dengan nama kastengel atau kue keju, nastar atau kue salju maka di Ina Cookies anda akan menemukan begitu banyak nama kue yang mungkin masih begitu asing.

Bagaimana tidak, untuk nama-nama kuenya, Ina Cookies yang ada di Jalan Bojong Koneng 8, Cikutra ini menciptakan brand image sendiri. Selain kue-kue seperti nastar, kastengels, choco atau chips Ina Cookies menciptakan resep kue sendiri dengan nama sendiri.

"Membuat nama sendiri biar khas. Kalau karangan sendiri akan puas," tutur Ina Rachmat.

Ina pun memilih awalan putri untuk setiap kue hasil kreasinya. Dari sekitar 85 kue resep kuenya nama kue berawalan putri masih sekitar 40-an. Ina bercita-cita nama kue berawalan putri ini bisa mencapai 100 resep.

Dalam penamaannya pun tidak sembarangan, setiap nama ada cerita. Misalnya nama putri pertamanya Adrin jadi nama kue putri Adrin. Putri Voula diambil dari nama putri keduanya Voula. Sedangkan nama putra ketiganya Fakhri dijadikan nama kue putra Fakhri.

"Ada juga kue yang terinspirasi dari mimpi yang disebut putri mimpi. Kue putri Indonesia karena warnanya merah putih, putri malu karena di dalamnya tersembunyi coklat dan kue putri-putri lainnya," jelas Ina.

Kue-kue Ina Cookies di bagi dua, manis dan asin. Kalau manis dibalut coklat sedangkan asin dicampur keju. Campuran kue lainnya seperti kacang mete, corn flakes, cherry, kopi, cokelat, strawberry, raisin dan lain-lain.

Salah satu resep yang sekarang jadi incaran pelanggan adalah putri ta chee yang berbahan baku tahu dan keju. Selain itu ada putri pe chee yang berbahan baku tempe dan keju. Ehm, bagaimana rasanya ya?

Kekhasan dan kualitas rasa setiap kuenya terletak pada roombutter. Sehingga Ina Cookies pun terkenal sebagai roombutter cookies.

Roombutter sejenis margarin tapi memiliki harga yang jauh lebih mahal. Penambahan roombutter dalam kue akan memberikan rasa renyah. "Roombutter itu membuat kue jadi renyah makanya harganya mahal," ucapnya.

Di Ina cookies ada tiga kategori kue yang diklasifikasikan sesuai komposisi roombutternya.

Untuk yang biasa dengan komposisi 50:50 antara margarin dan roombutter harganya Rp 45 ribu. Sedangkan untuk yang spesial dengan komposisi roombutter lebih dari 50 persen harganya Rp 55 ribu. Untuk yang super spesial atau gold dengan komposisi keseluruhan adalah room butter harganya Rp 90 ribu.

Di Bandung Ina Cookies bisa didapatkan di outlet-outlet resminya di Jalan Martadinata, BSM dan Istana Plaza. Ke depannya selain kue kering, Ina Cookies akan membuat terobosan dalam kue basah. Kita tunggu saja.

(ema/qom)

Source : Detik.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...