Tampilkan postingan dengan label Kreative Design. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreative Design. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2009

Wirausaha Perlu Ide Gila

BANDUNG, KOMPAS.com — Para pengusaha di Bandung, Jawa Barat, mengungkapkan perlunya ide gila untuk menawarkan produk atau jasa yang baru. Gagasan itu diperlukan untuk mencari celah pasar yang belum dipikirkan atau mengatasi hambatan usaha.

New Kretive Design

Pemilik The Big Price Cut Group, Perry Tristianto, di Bandung, Senin (6/4), mengatakan, ia pernah ditawari kerja sama menjalankan usaha penyelenggara acara. Kegiatan yang ditawarkan seperti ulang tahun remaja, pernikahan, dan sebagainya. Ia menolak karena pesaingnya sudah banyak. "Bikin penyelenggara acara orang meninggal, itu saya malah setuju. Makam seperti apa dan contoh peti matinya, bikin semua di brosur," katanya.

Adapun Pemilik Haus Tea, Tjiong Haw Hoat, mengatakan, ketika memulai usaha penjualan cakwenya, ia berhadapan dengan preman. Premannya minta cakwe. "Kalau saya lawan, berabe. Akhirnya, saya malah berpikir sebaliknya. Cakwe saya kasih terus. Setelah sebulan, ia malah mabuk cakwe," katanya.

Sementara itu, pemilik Monamic Center Marketing Consulting and Services, Jerry Koswara, mengatakan, mereka yang berniat membuka usaha merasa takut gagal. Sebagian dari mereka telah memiliki semangat untuk menjalin kerja sama dengan usaha yang lebih besar. "Namun, mereka terbentur birokrasi yang berbelit-belit. Proposal yang diserahkan tidak tahu sampai ke pimpinan atau mandek di sekretarisnya," ujar Jerry.

Source : Kompas.com
BAY

Jumat, 17 April 2009

Menyulap Toples Plastik Jadi Kue

Pengrajin dan kreativitas
Bandung - Sekilas melihat penampilan toples buatan Adry Padma (30) seperti toples berisi makanan lezat. Tapi tunggu dulu, ini bukan toples yang berisi makanan yang bisa dicerna. Melainkan bahan bekas flanel yang dibentuknya menjadi aneka buah, kue dan lain-lain.

"Sebenarnya dari dulu saya sudah gatal untuk membuat toples-toples dari flanel ini. Cuma dulu belum kesampaian," aku Adry. Adry sendiri mengaku memang sejak kecil dia sudah menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan kerajinan tangan.

Sampai akhirnya Adry menjadikan perayaan ulang tahun anaknya Agustus 2008 lalu sebagai uji coba. "Saat itu saya membuat 15 toples dan ternyata banyak yang suka. Mulailah dari sana ada pesanan," tutur istri dari Alphi Indiarto ini.

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu Adry punya kesempatan ikut serta dalam pameran, dimana dia memperkenalkan karyanya pada masyarakat umum.

Dari mana inspirasi Adry muncul? Dia mengaku membaca buku-buku kreasi dari Jepang. Kreasi-kreasi tersebut diadaptasi kemudian dikembangkan kembali dengan ide-ide baru. Flanel dipilih Adry karena dia ingin mengangkat flanel yang seringkali dianggap sebagai kain murahan menjadi lebih eksklusif dan bisa dimanfaatkan.

Dunia kreativitas dan handycraft sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan Adry. Sebelum merambah ke usaha cake toples yang dinamakannya Felted of Fun ini, Adry sudah bergerak di usaha wedding souvenir sejak tahun 2005 yang dinamakannya Kreasicrea.

Usia Felted of Fun ini memang bisa dibilang masih muda. Tapi dalam usia mudanya sudah banyak menarik perhatian orang.

"Saya masih mencoba memperkenalkan kepada masyarakat," katanya merendah.

Rumah tinggal sekaligus workshop yang terletak di Setiabudi Regency, dengan bantuan 10 stafnya, Adry memproduksi puluhan toples per hari. Dari mulai ukuran kecil sampai yang terbesar. Dalam pemilihan toples pun tidak sembarangan. Permukaan badan toples harus rata agar mudah diaplikasikan dengan flanel.

"Untuk bisa membuat hiasan di toples ini butuh ketelitian, kerapihan dan sentuhan khusus," katanya menerangkan cara membuat hiasan cantiknya.

Sampai saat ini kreasi toples Adry masih terbatas pada hiasan-hiasan yang menyerupai cake. Penggabungan warna dan ornamen-ornamennya memperlihatkan wujud cake tertentu. Indah dan unik. Tak hanya bisa dijadikan wadah kue, toples-toples cantik ini bisa dijadikan hiasan, hantaran, atau untuk memajang benda-benda hiasan lain.

Harga toples berkisar dari Rp 15 ribu sampai Rp 350 ribu. Tidak lama lagi Adry akan membuka showroom barunya di Jalan Boscha 8 Cipaganti.

Source : Detik dot com

Peluang usaha cuci mobil
Perguruan Tinggi Terbaik
Pengusaha Burger
Beternak Lebah Madu
Produk Mesin Lokal
Usaha Baju Model Old Fashion
Usaha Kreativitas
Usaha Studio Musik

Pengrajin Boneka Holis

Pengrajin Boneka HolisBahan Baku Mahal, Pengrajin Pilih Bahan Baku Bekas
Bandung - Limbah bagi sebagian orang bukanlah sampah tapi benda yang bermanfaat. Begitu pula bagi para perajin boneka di Gang Cibuntu (kawasan Holis), Kelurahan Warung Muncang Kecamatan Bandung Kulon. Para perajin membeli bahan baku pembuatan boneka dari kain-kain limbah di pusat penjualan kain Cigondewah.

Misalnya Ajat Sudrajat (47), salah seorang perajin, mengaku membeli bahan baku bonekanya dari pasar kain Cigondewah dan Pasar Baru. Bedanya di Cigondewah dirinya bisa mendapatkan bahan dengan harga lebih murah dibandingkan di Pasar Baru. Sebab bahan baku di Cigondewah adalah limbah-limbah sisa yang potongannya sudah tidak utuh sedangkan di Pasar Baru kain yang dibeli masih baru.

Tapi Ajat sendiri lebih memilih membeli dari Cigondewah daripada Pasar baru karena harga bahan baku lebih murah dan terjangkau. Walaupun diakui Ajat dengan menggunakan kain limbah lebih ribet karena harus menyambung-nyambungkan potongan-potongan kain.

"Tapi kan harganya lebih murah jadi bisa jual juga dengan harga yang lebih murah," ujar Ajat. Karena otomatis jika bahan bakunya dari Pasar Baru harga boneka pun jelas menjadi lebih tinggi. Tapi karena di Cigondewah bahan baku tidak selalu tersedia Ajat terpaksa membeli di Pasar Baru.

Padahal menurut Ajat harga bahan baku di Pasar Baru tidak selalu stabil dan bisa berubah setiap harinya. Untuk itu dirinya berharap ada perhatian dari pemerintah dalam pengembangan usaha para perajin ini termasuk permodalan. Karena menurutnya sampai saat ini para perajin kurang perhatian dari pemerintah.

"Pemerintah kurang perhatian khususnya dinas terkait di bidang UKM," tutur Ajat.

Lain halnya dengan Ajat, Abdul Rasyid (41) tidak lagi membeli bahan baku dari Cigondewah dan pasar Baru. Dia lebih memilih untuk membeli bahan baku boneka di Bekasi. Di mana beberapa pabrik besar pembuatan boneka ada di daerah tersebut.

"Warnanya lebih bagus bahannya juga lebih bagus," tutur Abdul. Abdul pun mengaku dia juga memproduksi bonekanya di Bekasi. Dalam satu bulan Abdul bisa menghasilkan sampai 6.000 buah boneka. Diakui Abdul pula Bekasi merupakan saingan yang cukup berat dalam industri boneka karena sejak tahun 2.000 perajin boneka di Bekasi makin berkembang.

Meniru

Sayang sungguh sayang, para perajin boneka tidak sepenuhnya membuat boneka secara mandiri. Dalam segi desain misalnya, masih ada desain boneka yang meniru boneka-boneka di toko. Hal ini diakui Ajat Sudrajat (47). Sebagai seorang perajin boneka Ajat mengaku selalu melihat perkembangan tren boneka. Tak jarang Ajat membeli produk baru di toko.

Boneka tersebut dibongkarnya sehingga Ajat bisa tahu bagaimana pola pembuatan boneka tersebut kemudian menirunya. Menurut Ajat dengan seperti itu dirinya bisa membuat boneka serupa dengan harga yang jauh lebih murah dengan harga di toko.

"Kalau di toko dijual Rp 30 ribu saya bisa jual Rp 10 ribu," tutur Ajat.

Detik dot com

Usaha makanan cepat saji
Tip biar bisnis bisa go public
Usaha jus pesan antar
Usaha barang seken layak direken
Beternak merpati balap omsetnya mantap

Kardus Disulap Jadi Truk



Sejak dua tahun yang lalu, Didin mulai memanfaatkan kardus bekas untuk diubah menjadi mainan.

Kardus Disulap Jadi Truk
Fotografer - Ema Nur Arifah
Didin Wahyudin (55), memanfaatkan kardus sebagai mata pencahariannya. Kardus-kardus bekas tersebut disulap menjadi truk, bus dan rumah-rumah mainan, Senin (13/4).

Bandung - Di tengah maraknya kampanye-kampanye lingkungan, apa yang dilakukan Didin Wahyudin (55) patut diacungi jempol. Tanpa harus banyak bicara, pria kelahiran Tasikmalaya ini memanfaatkan benda tak terpakai sebagai mata pencaharian.

Kardus, bahan inilah yang digunakan Didin. Kardus-kardus bekas pembungkus benda elektronik atau makanan diubahnya menjadi beragam mobil-mobilan seperti� truk dan bus juga membuat rumah-rumah mainan.


Tak menyangka, ide mahal seperti ini bisa muncul dari seorang pria sederhana yang selama puluhan tahun berprofesi sebagai penjual koran dan majalah di pom bensin Jalan Martadinata yang kini berubah jadi Taman Pramuka.

Persaingan dalam menjual Koran pun membuat Didin harus memilih profesi lain. Maka sejak dua tahun yang lalu, Didin mulai memanfaatkan kardus bekas untuk diubahnya menjadi mainan. Kini, setiap harinya, dia menjadikan teras depan Apotek Gandapura seperti kantornya sendiri.

Dari mana ide muncul? Didin menyatakan, hobinya membaca koran dan majalah menjadi salah satu faktor yang memberinya ilham. "Saya mendapat ide dari majalah-majalah yang saja baca," ujar Didin.

Kenapa memilih kardus? Alasan Didin cukup sederhana, karena kardus bahan yang murah meriah. Tentu saja murah, karena Didin terkadang tak perlu membeli kardus bekas. Dengan sukarela, banyak orang yang datang memberikan kardus bekas untuk diolah. Tapi bukan sembarang kardus. Didin memilih kardus dengan permukaan yang datar agar mudah untuk dibentuk.

Modal yang dikeluarkan Didin pun cukup minim yaitu hanya untuk membeli penggaris, gunting atau cutter, lem, karton dan kertas kado untuk pembungkus. Selebihnya, menurut Didin modal kemauan yang keras harus terus dipacu agar kardus-kardus bekas tersebut bisa menjadi sesuatu.

"Ketekunan dan kemauan yang harus terus ada," ujar pria berkacamata ini.

Tidak perlu latihan lama bagi Didin untuk piawai dalam mengolah kardus. Sejak awal, Didin mengatakan dirinya tidak kesulitan untuk membuat pola-pola yang digunakan dalam proses pembuatan mainan mobil-mobilan.

Untuk menyelesaikan satu truk misalnya dari awal sampai akhir bisa memakan waktu selama dua jam. Proses paling sulit menurut Didin adalah membuat ban mobil yang juga terbuat dari kardus. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian yang lebih agar tetap rapih.

Sedangkan untuk membuat rumah-rumahan Didin butuh waktu lebih banyak. Proses pembuatan mentahnya lebih banyak dilakukan di teras Apotek Gandapura, tapi untuk proses akhir Didin mengaku lebih suka menyelesaikan di rumah.

Penghasilan Didin setiap harinya tak tentu. Paling banyak Didin pernah menjual sampai 17 buah. Satu buah truk atau bus dijual Didin dengan harga Rp 10 ribu. Sedangkan untuk rumah-rumahan karena lebih rumit Didin menjual Rp 15 ribu.(ema/ern)

Detik dot.com

Beternak Lebah Madu
Produk Mesin Lokal
Usaha Baju Model Old Fashion
Usaha Kreativitas
Usaha Studio Musik

Plat Bekas Jadi Barang Seni

Plat Bekas Jadi Seni
Melalui senikir Judiono mengubah plat-plat bekas itu menjadi vas bunga, tempat buah, replika mobil VW, tempat pensil, replika helikopter dan lain-lain.

Mengubah Plat Bekas Jadi Barang Seni
Fotografer - Ema Nur Arifah
Bagi kita, plat nomor kendaraan yang sudah kadaluwarsa mungkin sudah tak berarti. Namun di tangan Judiono Soeleman, barang bekas ini diubah menjadi benda seni bernilai tinggi.

Kerja Sama Franchise
Membuat usaha franchise
Membangun Usaha
Resep Makanan
Butuh modal usaha

Mengubah Kelapa Jadi Patung Kepala

Buah Kelapa Jadi Patung
Di tangan seniman, segalanya bisa menjadi menarik. Bahkan buah kelapa pun bisa diubah menjadi patung wajah yang unik. Seperti yang dilakukan Rudi R (40) yang memamerkan patung kepala karyanya di Jl. Cihampelas, Bandung.

Bandung - Membuat patung wajah dari kelapa menurut perajin patung kelapa Rudi R (40) harus menyesuaikan dengan alam. Artinya ketika harus membuat patung wajah, Rudi harus menyesuaikan dengan bentuk buah kelapa yang didapatkannya apakah berbentuk oval atau bulat.

"Saya tidak bisa membuat seperti yang saya inginkan, tapi harus disesuaikan dengan bentuk kelapa," ujar Rudi saat ditemui sedang membuat patung di pinggiran Jalan Cihampelas.

Rudi tidak membuat satu tipe wajah saja. Dia membuat beragam tipe wajah dari berbagi negara. Misalnya wajah orang Indian, India, dan yang terakhir dia sedang membuat wajah shaolin. "Kalau bentuk kepalanya bulat berarti buat shaolin. Kalau bentuk kepalanya lonjong atau oval berarti buat Indian," ujar Rudi.

Karenanya, Rudi terkadang menolak jika ada pesanan untuk membuat wajah tertentu. Sebab kelapa yang tersedia tidak selalu sesuai dengan pesanan. Namun diakui Rudi apapun bentuk wajah dibuatnya, pembeli juga menyukai.

Untuk menarik perhatian pembeli, tak jarang Rudi membuatkan patung artis yang sedang naik daun. Misalnya dia pernah membuat satu set patung personel ST 12 dan Peter Pan bahkan John Lennon yang berkacamata. "Saya juga pernah membuat patung Megawati," ujar Rudi.

Untuk anak muda lain lagi permintaanya. Mereka menginginkan patung dengan gaya rambut gaya Mohawk. Tapi kebanyakan pembeli mengincar patung-patung wajah orang tua.
(ema/ern)

Bandung - Membuat patung dari kayu adalah hal yang biasa. Tapi bagaimana jadinya jika patung itu terbuat dari buah kelapa? Di tangan Rudi R (40), hal itu bukan tak mungkin. Rudi berhasil mengubah buah kelapa menjadi patung wajah yang unik.

"Bukan kelapa biasa," ujar Rudi yang setiap harinya berjualan di trotoar Jalan Cihampelas.

Dalam bahasa Sunda, kelapa yang digunakan disebut tabu, sedangkan dalam bahasa Jawa disebut gabug. Tabu atau gabug bisa dikatakan kelapa bantat atau kelapa tidak jadi, karena memiliki batok kelapa yang kecil dan tidak memiliki daging kelapa. Masyarakat desa biasanya menggunakan kelapa jenis ini untuk bahan bakar perapian (suluh).

"Awalnya yang saya gunakan kelapa dari pasar, aku Rudi yang menekuni hobinya ini sejak empat tahun lalu ini. Namun dia mengalami kesulitan saat membuat patung karena terbentur batok kelapa yang besar. Akhirnya untuk mendapatkan kelapa yang bagus, Rudi berkonsultasi pada masyarakat Banjar dan Ciamis. Mereka memberi saran agar Rudi menggunakan tabu yang memiliki batok kelapa yang lebih kecil.

Setelah diuji coba, Rudi pun yakin kelapa jenis inilah yang tepat untuk menyalurkan hobinya tersebut. Akhirnya Rudi mantap memilih tabu dan hingga kini membeli kelapa jenis ini dari masyarakat Banjar atau Ciamis.

Eksperimen patung dengan kelapa jenis tabu ini tidak langsung berhasil. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, pada awalnya Rudi terpaksa mengorbankan beberapa butir kelapa jika hasil ukirannya gagal.

Awalnya Rudi hanya membuat patung kepala saja dengan anatomi yang biasa. Proses pembentukan hidung diakui Rudi adalah hal yang tersulit. Jika dalam proses ini gagal maka sudah sulit lagi untuk diubah karena tidak bisa ditambal.

Bisa karena biasa. Makin lama patung kepala karya Rudi mengalami kemajuan. Apalagi sejak Rudi memutuskan menjual karyanya di Pinggiran Jalan Cihampelas, atas usul pembeli, Rudi mulai kreatif dengan memberikan janggut, kumis, dan rambut pada patungnya. Sehingga hasilnya begitu mirip dengan wajah manusia.

"Kalau dulu ada juga yang pakai kacamata atau topi," ujar Rudi.

Alat yang Rudi gunakan cukup sederhana hanya sebilah pisau kecil. Dia langsung menuangkan apa yang ada dalam benaknya tanpa melihat gambar objek yang akan dibuat. "Harusnya lihat gambar tapi ribet," ujarnya.

Tidak semudah kelihatannya. Menurut Rudi dia bisa menghabiskan waktu 4-5 jam untuk satu patung kepala. Dalam satu hari Rudi hanya bisa menyelesaikan dua patung.

"Itu pun masih dalam tahap kasar," tutur Rudi. Karena jika ingin hasil jadi patung yang mulus dan benar-benar mirip aslinya bisa memakan waktu sampai dua hari. Tapi bagi Rudi yang penting dia memiliki stok patung untuk dijual. Patung-patung tersebut dijualnya dari harga termurah Rp 25 ribu sampai Rp 200 ribu.

Patung-patung tersebut dipajang di batang pohon, sehingga dengan mudah dilihat para pejalan kaki maupun pengendara jalan raya yang melintas di Jalan Cihampelas. Rudi biasanya berjualan selama setengah hari dari mulai pukul 12.00-18.00 WIB.
(ema/ern)

Fotografer - Ema Nur Arifah
detik.com

Bisnis Sop Buntut
Keperluan Anjing dan Kucing
Belajar Investasi
Join Usaha Batu Bara
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...