Minggu, 26 April 2009

Mutiara Laut Tahuna

Mutiara Laut Tahuna Berkilau sampai Mancanegara
JAKARTA, KOMPAS.com — Kerajinan mutiara laut mempunyai nilai jual yang tinggi di luar negeri. Tengok saja bagaimana masyarakat Jepang sangat menggemari mutiara laut asal Tahuna, Maluku Utara. Sayangnya, badai krisis mulai menerpa industri ini. Perlahan, permintaan mutiara ini makin berkurang.
Mutiara Laut Tahuna


Salah satu perajin mutiara laut Tahuna yang sukses adalah Meyke Sukoyo. Nenek dua cucu ini mengaku sudah delapan tahun menggeluti bisnis penjualan mutiara. Omzet penjualan perhiasan mutiaranya sudah mencapai Rp 1 miliar saban bulannya.

Awalnya, bisnis Meyke hanya bergerak di penjualan mutiara polos. Mutiara polos tersebut dijualnya ke beberapa kota di Indonesia, seperti ke Jakarta. "Bisnis mutiara saya tekuni karena jumlahnya melimpah di Tahuna," lanjut ibu 50 tahun ini.

Kemudian, tebersit keinginan Meyke untuk membuat produk perhiasan dari mutiara. Ia ingin produknya tersebut bisa terkenal sampai ke mancanegara.

Dengan pertimbangan yang matang, Meyke lantas mengajukan kredit ke BNI Sangir Talaud sejumlah Rp 350 juta. Modal tersebut digunakannya untuk membeli emas dan berlian yang digunakan untuk mengikat mutiara-mutiaranya. Dengan desain yang indah, mutiara-mutiara laut Meyke terlihat semakin berkilau.

Karena usahanya sukses, Meyke bisa melunasi kreditnya dalam waktu setahun. Setelah lunas, Meyke kembali mengajukan kredit. "Sampai saat ini, total kredit ke BNI sebesar Rp 700 juta," ujar Meyke.

Setiap bulan, Meyke bisa memasok bahan baku mutiara sebanyak 40 kilogram. Dari sekian banyak mutiara, terdapat kelas-kelas khusus. Ada mutiara yang kelasnya Rp 1,5 juta, Rp 1 juta, Rp 500.000, dan Rp 300.000 per gram.

Agar produknya cepat laku dan terkenal, Meyke rajin menyambangi pameran-pameran di luar negeri dan dalam negeri. Salah satu pameran yang selalu diikutinya adalah pameran di Hongkong serta Inacraft. "Kalau orang Indonesia menyukai perhiasan yang kualitas mutiaranya Rp 500.000 per gram. Kalau orang Jepang dan Hongkong suka yang Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per gram," terangnya.

Untuk satu perhiasan, Meyke menjualnya mulai harga Rp 30 juta sampai Rp 80 juta. Dari harga tersebut Meyke mendapat margin 10 persen. Dengan harga tersebut, dalam satu pameran, Meyke bisa menangguk omzet sampai Rp 600 juta. "Pameran Inacraft dua tahun lalu omzet saya Rp 600 juta. Tahun lalu Rp 500 juta. Tahun ini saya tidak tahu karena ada krisis," ujarnya.

Memang, usaha Meyke rawan terpaan krisis. Dua bulan ini saja, omzet penjualan perhiasan mutiara Meyke turun sampai 40 persen. "Saat ini saya hanya bisa bersabar sampai kondisi membaik," ujarnya lagi. (Aprillia Ika/Kontan)

Konro daeng basso
Batik serat alam digandrungi
Usaha rumah bambu
Rejeki syuuur dari sayur mayur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...